Sabtu, 15 November 2014
Tentang karakter suara biola....
Danang S P
6 Agustus · Disunting
Kesimpulan....
Setelah membaca posting serta komentarnya dari teman2 semua.... ternyata banyak faktor yg membuat karakter suara dari sebuah biola... yg kebetulan banyak sekali yg mempermasalahkannya... karena suara biolanya terlalu dark... atau terlalu brigth...dlsb.
Faktor2 nya antara lain....
1. Bridge...
Tebal tipis nya mempengaruhi suara..
Bridge tebal condong ke medium bass
Sedangkan yg tipis ke medium treeble
Tinggi rendahnya pun juga mempenga
ruhi.. bridge yg tinggi mwmbuat senar
jadi renggang ke finger board.. dan mempengaruhi suara jadi nyaring... demikian pula sebaliknya
2. Soundpost..
Penempatan sound post juga membuat karater tersendiri buat biola... untuk eksperiment yg menarik dan menantang... coba lah menempatkan soundpost diposisi yg berbeda2... kalian akan takjub dengan benda kecil ini dapat mempengaruhi karakter sound dari biola kalian...
3. Senar...
Benda ini juga ngga kalah pentingnya dalam membentuk karakter suara... sering/pastinya.. violinist pro pun kebanyakan memakai senar yg ngga seragam/setype... kadang senar yg satu set ngga kompak dalam memberikan suara yg keluar dari biola.. jadi solusinya... senar 1 dan 2 pakai merk A.. senar 3 dan 4 pakai merk B...
Juga dalam meggulung nya di tuning peg... sebaiknya senar ngga boleh tumpang tindih... jadi harus rapih .. senar yg bertindihan bisa meredam suara bahkan membuat seakan bindeng/sengau
4. Bahan/kayu biola
Disini kita harus paham akan kayu mana yg tonewood... mana yg bukan....
Penggunaan kayu spruce dan maple adalah yg terbaik... jadi ngga bisa disamakan biola yg terbuat dari kayu mangga/mahoni/nangka ( biasanya biola lokal) dengan biola yg terbuat dari kayu yg berasal dari daerah 4 musim tsb(maple dan spruce)
5. Aksesori..
Maksudnya dari tuning peg, tailpiece, chinrest, endpin, shoulder rest...
Banyak sekarang beredar peg yg terbuat dari plastik.. yg memberikan efek meredam suara... beda dengan yg terbuat dari kayu ebon/sonokeling...
Pemakaian shoulder rest pun pada kasus tertentu juga ikut meredam suara...bahkan pemakaian pick up yg ditanam bersama pre amp juga dapat meredam biola akustik....
Segitu aja dulu kali ya...ini semua hasil pengamatan pribadi.... dan semoga membantu teman2 sekalian...terutama mas Nor Subiyantoro....hehehehe semangat.... salam Biola Indonesia...
Fragmen Seorang Violinist: Quantum Leap
Bambang Irawan
Fragmen Seorang Violinist: Quantum Leap
Kabar gembira untuk para pembelajar biola yang jenuh atau merasa terbebani dengan latihan panjang dan lama untuk bisa menguasai biola. Bahwa latihan yang membebani diri sendiri, penuh tekad dan obsesi (baca kerja keras dan ngoyo) dipercaya justru memperlama proses belajar dan ujung ujungnya malah membuat sesi sesi latihan tidak bisa dinikmati. Yehudi Mehunin dalam bukunya menulis pengalamannya sebagai jenius cilik, masa remajanya yang harus tetap berjuang dan berlatih dan puluhan tahun malang melintang di gedung konser: bahwa berlatih biola tidak bisa dijalankan dengan obsesi cepat bisa. Dalam kisah Zen kita membaca seorang murid pedang bertanya ke gurunya berapa lama bisa menguasai ilmu pedang dan sang guru menjawab paling cepat 40 tahun. Sang murid kembali menawar, tapi guru saya akan meninggalkan keluarga, pekerjaan dan fokus sepenuhnya belajar ilmu pedang dan sang guru menjawab "kalau begitu kamu butuh minim 120 tahun untuk menguasai ilmu pedang".
Studi ilmiah yang mendukung pengalaman Zen dan pengalaman maestro biola ini ada dalam neuroscience. Dua kelompok sukarelawan ditest belajar piano dengan dua cara (yang dijelaskan di fragmen sebelumnya : Mental Practice), hasil pemetaaan motor cortex otak mereka menunjukkan hasil yang menarik. Tes hari Senin (awal minggu setelah beristirahat di akhir pekan) dan tes hasil Jumat (setelah seminggu latihan) menunjukkan perbedaan otak kita dalam bertumbuh kembang. Kedua pola menunjukkan pertumbuhan yang saling bertentangan.
Peta hari Jumat menunjukkan peta motor kortex mereka bertumbuh secara dramatik (menunjukkan perubahan akibat pembelajaran skill baru) terus selama durasi tes . Tapi kembali menciut ke awal lagi pada hari Seninnya. Enam bulan pertama perubahan sangat dramatik tapi selalu kembali ke awal lagi. Enam bulan berikutnya pertumbuhan mulai menurun tidak sedramatik enam bulan pertama.
Peta hari Senin sebaliknya tidak berubah selama enam bulan pertama, baru bertumbuh pelahan setelah bulan ke sepuluh. Para pembelajar musik dan pembelajar huruf braille memperoleh ketrampilan permanen mereka dari perkembangan yang perlahan ini (setelah beristirahat dan pertumbuhannya tidak dipaksakan). Ketrampilan yang diperoleh dengan pertumbuhan cepat cepat pula hilang kembali.
Karena kedua proses terjadi di otak kita, kita sekarang mengerti manfaat berlatih tiap hari tanpa ngoyo dan konsistensi terus berlatih minggu demi minggu untuk skill yang permanen. Dengan ini kita tahu bahwa latihan akan membawa hasil (baik maupun buruk) terlepas dari kita ngoyo atau tidaknya. Dan skill baru membutuhkan latihan dan iterasi, ibarat menekuk kertas membuat pola garisan. Makin banyak di tekuk kertas akan membuat garis tekuk yang makin jelas dan dalam. Begitu pula otak kita dengan ketrampilan baru, makin banyak latihan pola sinaposis neuron kita akan jelas dengan proses tumbuh yang dikutip diatas.
Ini menjawab kenapa kita latihan dengan mengukur tiap hari atau minggu akan membuat stress sendiri. Mengukur diri dengan hitungan bulan baru proporsional. Mereka yang pernah berlatih olah raga khususnya marathon atau olah raga aerobik lainnya akan mengerti hal ini, setelah sekian bulan latihan hanya mampu lari sekian kilo dalam sekian menit, tiba tiba mengalami lompatan kemampuan lari di bulan ke sekian latihan. Ini disebut quantum leap latihan. Dan sayangnya kadang datangnya quantum leap ini mungkin sehari sebelum kita berhenti berlatih karena jenuh atau bosan ! Jadi jangan berhenti berlatih biola, mungkin besok quantum leap anda datang!
Salam ngek ngok!
Fragmen Seorang Violinist : Pelan-pelan
Bambang Irawan
Fragmen Seorang Violinist : Pelan-pelan
Koichiro (nama samaran) berusia 7 tahun memainkan Mendelssohn violin concerto di studio Dorothy DeLay. Dalam dua minggu dia akan tampil dengan karya itu diiringi orkestra di New Jersey. Dengan diiringi piano Koichiro dengan biola mininya mengisi ruang studio dengan suara biola layaknya violinist dewasa yang mahir. Selesai memainkan DeLay memberi petunjuk selama setengah jam dua hal yang perlu diperbaiki yaitu sedikit perubahan fingering dan sarannya untuk menurunkan sedikit siku kanannya ketika down bow dan memastikan ibunya yang hadir disitu untuk memperhatikan kebiasaan baru itu. Ketika selesai Koichiro mengerluh permainannya yang terasa kurang cepat. DeLay tertawa "tapi kamu barusan main dengan tempo yang benar, lihat metronom sudah di set di tempo yang pas dan kamu berhasil memainkannya". Kemudian Dorothy DeLay memberi pelajaran berharga "Jika sesuatu terasa terlalu cepat, ingat bow bisa mengatasinya. Jika tangan kiri tidak bisa mengikuti, ekseskusi dengan perlahan. Jika kau memainkannya lebih pelan kamu bisa memainkan apapun. Ingat otak kita membutuhkan repetisi untuk melakukan sesuatu dengan lebih cepat".
Itzhak Perlman dalam tutorial internetnya memberi wejangan yang sama. Berlatih pelahan lahan. Jika kita berlatih dengan cepat maka otak kita akan cepat lupa. Jika kita berlatih pelahan otak kita meminta kesempatan untuk membangun jaringan neuron dan sinapsis baru untuk menjadi permanen. Ini membutuhkan repetisi yang diawali dengan eksekusi perlahan dulu, makin lama akan makin cepat sendiri begitu jaringan neuron sudah terbangun dari jari (tubuh kita) ke otak.
Otak kita mempunyai dua cara kerja dalam mempelajari memori. Memori bukan hanya ingatan atau hapalan melainkan juga ketrampilan baru dengan kaki, tangan, mata dan telingan kita (baca tubuh kita). Cara pertama dengan cepat dimana perubahan dramatik dalam sinapsis dan otak kita terjadi namun cepat kembali ke asalnya. Cepat cepat malah cepat lupa. Ini kita alami jika kita belajar sistem kebut semalam (SKS) menjelang ujian di sekolah. Cepat ingat cepat lupa. Kedua dengan perubahan pelahan dimana pengulangan berkala menciptakan jaringan neuron yang stabil dan lebih permanen.
Dengan pengertian kita ini mulai latihan kita dengan kesabaran otomatis. Kalau belum bisa yang memang butuh waktu. Kalau mau cepat apa mau cepat lupa juga? Untuk menyiasati potongan musik yang sulit dan terlalu cepat ya tinggal dimainkan pelan pelan. Ibarat mengancing baju, perhatikan anak kecil yang berjuang dalam mengancingkan bajunya dan kita yang dengan cepat tanpa melihat bisa mengancing baju kita. Yang terjadi adalah pelajaran mengancing baju dilakukan berulang ulang dan makin ahli makin cepat kita bisa memainkannya. Tidak ada jalan pintas. Jalan pintas bisa dilakukan untuk hal hal tertentu tapi cepat terlupakan pula. Jika kita sabar melihat anak kecil belajar berjalan, orang dewasa kadang tidak sabar dengan dirinya sendiri saat mempelajari hal baru.
Hal yang sama dengan membaca not balok. Ingat-ingat bagaimana kita dulu belajar membaca dan menulis
Salam Ng Ng Ng
Jumat, 14 November 2014
Jumat, 17 Oktober 2014
Pengertian Solfegio
Solfegio
adalah latihan kemampuan pendengaran atau ketajamanpendengaran musik, baik ketepatan ritmik maupun ketepatan nadanya.Menurut Stanly yang dikutip Sumaryanto (2005:40) dikatakan Solfegio adalah istilah yang mengacu pada menyanyikan tangga nada, interval dan latihan-latihan melodi dengan sillaby zolmization yaitu, dengan menyanyikan solmisasi (do,re,mi,dst) dan kemudian dikembangkan dengan menempatkan huruf vokal (a,i,u,e,o) sebagai ganti solmisasi. Solfegio juga dapat diartikan sebagai ilmu dalam memahami interval musik dan notasi. Solfegio bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang jarak nada satu ke nada yang lain dengan cara menyanyikan berbagai macam bentuk notasi, dengan menyanyikan interval nada yang berbeda-beda. Biasanya solfegio diajarkan dengan latihan-latihan menyanyikan solmisasi yang terus bertambah tingkat kesulitannya.
Dalam perkembangannya solfegio bukan hanya menyanyi saja tetapi juga mendengar dan membaca nada. Kemampuan membaca nada disebut dengan Sight Reading, kemampuan mendengar nada disebut dengan Ear Training, sedangkan kemampuan menyanyi disebut dengan Sight Singing.
.
1. Sight Reading
Menurut Stanley seperti yang dikutip Sumaryanto(2001:31-33)
Sight reading adalah membaca not tanpa persiapan atau kesanggupansekaligus untuk membaca dan memainkan notasi musik yang belumpernah dikenal sebelumnya (sering disebut dengan istilah prima vista.
Fungsi sight reading selain untuk meningkatkan kemampuanmembaca dan menambah pengetahuan tentang bahasa musik jugaberfungsi untuk menemukan hal–hal baru dalam musik dan memberikankenikmatan dalam bermusik bagi pemain atau penyaji musik hingga padatingkat ketrampilan mahir. Ada dua pendekatan dalam melatih sight reading, yaitu :
(1) dengan memainkan lagu yang mudah dengan tempo yang sebenarnya,
(2) dengan lagu yang sulit dalam tempo yang sangat lambat.
Richman dalam Sumaryanto (2001:33). Melalui sight reading diharapkan siswa dapatmembaca notasi musik dengan cepat dan tepat.Florentinus membagi kemampuan membaca not (sight reading) dalam tiga indikator, yaitu :
(1) kemampuan membaca ritme/irama,
(2) kemampuan membaca melodi/rangkaian nada,
(3) kemampuanmembaca kord/ keselarasan gabungan nada.
2. Ear Training
Ear Training adalah latihan kemampuan mendengar, menurutKodiyat (1983:68),
Ear Training adalah latihan pendengaran secarasistematis, latihan vokal tanpa perkataan dan hanya dengan suku kataterbuka. Latihan pendengaran tersebut dilakukan dengan caramenselaraskan dengan not- not yang dihadapi. Dengan terbiasanya siswamendengar secara bertahap, maka bayangan nada/not dari suatu lagu yangdidengar akan dapat dibayangkan besar kecilnya dan tepat tidaknyalompatan nada.Manusia normal sejak lahir sudah dibebani dengan kemampuanreaksi terhadap bunyi atau musik, sehingga tanpa kegiatan mendengarmanusia tidak dapat memberikan reaksi terhadap rangsangan yangmembentuk bunyi ( Jamalus, 1981:49) Latihan pendengaran musik biasanya dilakukan dalam bentuk dikteyang berupa nada yang dinyanyikan kemudian ditirukan, yang sebelumnyadidahului dengan latihan pendengaran dan latihan daya ingat. Dikte tersebut berupa melodi, kord, dan ritme. Latihan pendengaran inimembutuhkan konsentrasi yang sungguh- sungguh agar kesan musik dapatdimengerti dan bila dilakukan secara berulang- ulang dapat dijadikan dasarmenuju tahap pelajaran membaca notasi.
Florentinus (1997:62) membagi lebih lanjut kemampuan mendengarnot (Ear Training) ke dalam tiga indikator kemampuan, yaitu:
(1) kemampuan mendengar dan mengingat ritme/irama, menuliskan sertamenyuarakan kembali,
(2) kemampuan mendengar dan mengingatmelodi/rangkaian nada, menuliskan serta menyuarakan kembali,
(3) kemampuan mendengar dan mengingat kord/keselarasan gabungan nada.
Menurut Benward yang dikutip oleh Sumaryanto(2001:35), kemampuan pendengaran merupakan gabungan dari faktor kebiasaan danpembawaan. Faktor kebiasaan dapat dikembangkan melalui latihan teratur,sedangkan faktor pembawaan murni berasal dari kemampuan diri yangberupa bakat musikalitas.Dalam proses mempelajari sebuah lagu perlu ditanamkan pengertiantentang rasa irama/ritme, agar siswa dapat memnyanyikan sebuah lagudengan dalam irama yang sesuai. Selain itu perlu ditanamkan jugapengertian tentang bayangan /memori nada, interval, dan melodi sehinggatidak mengalami kesulitan dalam menyanyikan sebuah lagu dengan benar.Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa kemampuan mendengar not(Ear Training)adalah tingkat kepekaan siswa dalam mendengarkan,mengingat, menuliskan dan menyuarakan kembali unsur–unsure musikaldalam bentuk notasi musik secara langsung, baik pada melodi, ritmemaupun kord.
3. Sight Singing
Yang dimaksud dengan Sight Singing adalah latihan menyanyikan nada sesuai dengan melodi. Ada dua sistem yang dapat digunakan dalamlatihan ini, yaitu system fixed do dan system movable do. Kedua sistemtersebut dijabarkan sebagai berikut:
1. Sistem fixed do Adalah latihan nada-nada dinyanyikan dengan apa adanya,misalkan nada C akan tetap dibaca do meskipun dalam tangga nadayang berbeda-beda. Contoh lain, siswa menyanyikan lagu dalam tangga nada F mayor (1 mol) maka nada F tidak dibaca do melainkan fa.
2. Sistem Movable do adalah do yang bisa berubah-ubah, jadi nama do bisa terletak pada nada c, d, e, f, g, dan seterusnya sesuai nadadasar yang digunakan.
Florentinus membagi kemampuan menyanyikan not atau sight singing dalam tiga indikator, yaitu :
(1) Kemampuan menyanyikanmelodi atau rangkaian nada,
(2) Kemampuan menyanyikan intervalnada,
(3) Kemampuan menyanyikan tangganada. (Sumaryanto,2001:40-42)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menyanyikan nada (sight Singing) adalah tingkat kelancaran siswa untuk mengubah bentuk notasi menjadi suara atau vokal tanpa persiapan sebelumnya.
Pada pelaksanaan pembelajaran vokal di kelas IV Unggulan, sight singing, ear training, dan sight reading diterapkan secara bervariasi disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa.
sumber:http://makalah-perpustakaan.blogspot.com/2013/04/pengertian-solfegio_11.html
adalah latihan kemampuan pendengaran atau ketajamanpendengaran musik, baik ketepatan ritmik maupun ketepatan nadanya.Menurut Stanly yang dikutip Sumaryanto (2005:40) dikatakan Solfegio adalah istilah yang mengacu pada menyanyikan tangga nada, interval dan latihan-latihan melodi dengan sillaby zolmization yaitu, dengan menyanyikan solmisasi (do,re,mi,dst) dan kemudian dikembangkan dengan menempatkan huruf vokal (a,i,u,e,o) sebagai ganti solmisasi. Solfegio juga dapat diartikan sebagai ilmu dalam memahami interval musik dan notasi. Solfegio bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang jarak nada satu ke nada yang lain dengan cara menyanyikan berbagai macam bentuk notasi, dengan menyanyikan interval nada yang berbeda-beda. Biasanya solfegio diajarkan dengan latihan-latihan menyanyikan solmisasi yang terus bertambah tingkat kesulitannya.
Dalam perkembangannya solfegio bukan hanya menyanyi saja tetapi juga mendengar dan membaca nada. Kemampuan membaca nada disebut dengan Sight Reading, kemampuan mendengar nada disebut dengan Ear Training, sedangkan kemampuan menyanyi disebut dengan Sight Singing.
.
1. Sight Reading
Menurut Stanley seperti yang dikutip Sumaryanto(2001:31-33)
Sight reading adalah membaca not tanpa persiapan atau kesanggupansekaligus untuk membaca dan memainkan notasi musik yang belumpernah dikenal sebelumnya (sering disebut dengan istilah prima vista.
Fungsi sight reading selain untuk meningkatkan kemampuanmembaca dan menambah pengetahuan tentang bahasa musik jugaberfungsi untuk menemukan hal–hal baru dalam musik dan memberikankenikmatan dalam bermusik bagi pemain atau penyaji musik hingga padatingkat ketrampilan mahir. Ada dua pendekatan dalam melatih sight reading, yaitu :
(1) dengan memainkan lagu yang mudah dengan tempo yang sebenarnya,
(2) dengan lagu yang sulit dalam tempo yang sangat lambat.
Richman dalam Sumaryanto (2001:33). Melalui sight reading diharapkan siswa dapatmembaca notasi musik dengan cepat dan tepat.Florentinus membagi kemampuan membaca not (sight reading) dalam tiga indikator, yaitu :
(1) kemampuan membaca ritme/irama,
(2) kemampuan membaca melodi/rangkaian nada,
(3) kemampuanmembaca kord/ keselarasan gabungan nada.
2. Ear Training
Ear Training adalah latihan kemampuan mendengar, menurutKodiyat (1983:68),
Ear Training adalah latihan pendengaran secarasistematis, latihan vokal tanpa perkataan dan hanya dengan suku kataterbuka. Latihan pendengaran tersebut dilakukan dengan caramenselaraskan dengan not- not yang dihadapi. Dengan terbiasanya siswamendengar secara bertahap, maka bayangan nada/not dari suatu lagu yangdidengar akan dapat dibayangkan besar kecilnya dan tepat tidaknyalompatan nada.Manusia normal sejak lahir sudah dibebani dengan kemampuanreaksi terhadap bunyi atau musik, sehingga tanpa kegiatan mendengarmanusia tidak dapat memberikan reaksi terhadap rangsangan yangmembentuk bunyi ( Jamalus, 1981:49) Latihan pendengaran musik biasanya dilakukan dalam bentuk dikteyang berupa nada yang dinyanyikan kemudian ditirukan, yang sebelumnyadidahului dengan latihan pendengaran dan latihan daya ingat. Dikte tersebut berupa melodi, kord, dan ritme. Latihan pendengaran inimembutuhkan konsentrasi yang sungguh- sungguh agar kesan musik dapatdimengerti dan bila dilakukan secara berulang- ulang dapat dijadikan dasarmenuju tahap pelajaran membaca notasi.
Florentinus (1997:62) membagi lebih lanjut kemampuan mendengarnot (Ear Training) ke dalam tiga indikator kemampuan, yaitu:
(1) kemampuan mendengar dan mengingat ritme/irama, menuliskan sertamenyuarakan kembali,
(2) kemampuan mendengar dan mengingatmelodi/rangkaian nada, menuliskan serta menyuarakan kembali,
(3) kemampuan mendengar dan mengingat kord/keselarasan gabungan nada.
Menurut Benward yang dikutip oleh Sumaryanto(2001:35), kemampuan pendengaran merupakan gabungan dari faktor kebiasaan danpembawaan. Faktor kebiasaan dapat dikembangkan melalui latihan teratur,sedangkan faktor pembawaan murni berasal dari kemampuan diri yangberupa bakat musikalitas.Dalam proses mempelajari sebuah lagu perlu ditanamkan pengertiantentang rasa irama/ritme, agar siswa dapat memnyanyikan sebuah lagudengan dalam irama yang sesuai. Selain itu perlu ditanamkan jugapengertian tentang bayangan /memori nada, interval, dan melodi sehinggatidak mengalami kesulitan dalam menyanyikan sebuah lagu dengan benar.Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa kemampuan mendengar not(Ear Training)adalah tingkat kepekaan siswa dalam mendengarkan,mengingat, menuliskan dan menyuarakan kembali unsur–unsure musikaldalam bentuk notasi musik secara langsung, baik pada melodi, ritmemaupun kord.
3. Sight Singing
Yang dimaksud dengan Sight Singing adalah latihan menyanyikan nada sesuai dengan melodi. Ada dua sistem yang dapat digunakan dalamlatihan ini, yaitu system fixed do dan system movable do. Kedua sistemtersebut dijabarkan sebagai berikut:
1. Sistem fixed do Adalah latihan nada-nada dinyanyikan dengan apa adanya,misalkan nada C akan tetap dibaca do meskipun dalam tangga nadayang berbeda-beda. Contoh lain, siswa menyanyikan lagu dalam tangga nada F mayor (1 mol) maka nada F tidak dibaca do melainkan fa.
2. Sistem Movable do adalah do yang bisa berubah-ubah, jadi nama do bisa terletak pada nada c, d, e, f, g, dan seterusnya sesuai nadadasar yang digunakan.
Florentinus membagi kemampuan menyanyikan not atau sight singing dalam tiga indikator, yaitu :
(1) Kemampuan menyanyikanmelodi atau rangkaian nada,
(2) Kemampuan menyanyikan intervalnada,
(3) Kemampuan menyanyikan tangganada. (Sumaryanto,2001:40-42)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menyanyikan nada (sight Singing) adalah tingkat kelancaran siswa untuk mengubah bentuk notasi menjadi suara atau vokal tanpa persiapan sebelumnya.
Pada pelaksanaan pembelajaran vokal di kelas IV Unggulan, sight singing, ear training, dan sight reading diterapkan secara bervariasi disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa.
sumber:http://makalah-perpustakaan.blogspot.com/2013/04/pengertian-solfegio_11.html
Jumat, 03 Oktober 2014
Tips Membaca Not Balok
Membaca not balok bukan merupakan hal yang mudah, apalagi bagi seseorang yang baru pertama kali belajar musik dan di wajibkan untuk dapat membaca not balok. Saya sendiri baru bisa membaca not balok 3 tahun yang lalu setelah mulai belajar gitar klasik. Sebelumnya saya tidak dapat membaca not balok sama sekali, sebab dari SD sampai SMA, saya diperbolehkan dan tidak pernah dimarahi ketika saya mengganti not balok tersebut ke dalam notasi not angka. Sehingga saya tidak pernah terbiasa untuk membaca not balok secara langsung dan saya menjadi malas membaca not balok tersebut. Setiap pelajaran seni musik, yang saya dan teman-teman saya lakukan adalah mengubah not balok menjadi not angka. Hal itu terbawa sampai saya mulai belajar gitar klasik dan saya kelimpungan karena tidak diperbolehkan untuk mengubah not balok yang ada di buku jadi not angka. Mabok dan pusing bukan main. Tapi ada beberapa cara yang saya lakukan untuk akhirnya saya bisa membaca not balok tersebut dalam kurun waktu 1 bulan. Berikut adalah cara yang saya lakukan:
1. Latihan setiap hari, hal ini penting mengingat saya tidak terbiasa membaca “kecambah” yang bergelantungan sana sini dan bewarna hitam. Latihan tidak perlu sampai bercucuran keringat dan air mata, yang penting adalah setiap hari. Paling tidak setengah jam atau satu jam per harinya. Latihan dapat dilakukan dari buku yang didapat dari tempat les (kalau les musik), dari toko buku, dari teman yang punya partitur lagu sederhana dengan not balok, ataupun dari internet.
2. Memainkan instrumen musik setiap hari, hal ini terkait dengan poin nomor 1, dimana kita harus melatih kemampuan kita membaca not balok setiap hari. Memainkan instrumen yang kita pelajari secara rutin juga mempunyai keuntungan lain, yaitu kita dapat mengasah kemampuan kita untuk mengontrol serta mengeksplorasi instrumen musik tersebut.
3. Berlatih dalam keadaan relax, hal ini diperlukan agar otak kita dapat bekerja secara maksimal. Jika kita berlatih dalam keadaan tertekan karena dikejar waktu, sedang dalam keadaan marah, ataupun ngantuk, maka kita tidak akan bisa berlatih secara maksimal.
4. Tidak menghafalkan not balok, maksudnya di sini adalah bahwa kita jangan menghafalkan not balok seperti kita belajar sejarah atau pelajaran sekolah. Karena jika itu yang kita lakukan, maka kemungkinan besar kita akan cepat lupa ketika kita tidak pernah membaca not balok lagi. Sebaiknya kita cukup mengetahui lokasi not dalam garis paranada serta tempat kita meminkan nada tersebut dalam instrumen dan berlatih sambil melihat partiturnya, jangan dihafal mati-matian (do letaknya di sini, re letaknya di sana, dst.) Hafal itu pasti akan terjadi ketika kita sudah sering latihan dan sering memainkannya dengan instrumen yang kita tekuni (lihat poin 1 dan 2 :p)
2. Memainkan instrumen musik setiap hari, hal ini terkait dengan poin nomor 1, dimana kita harus melatih kemampuan kita membaca not balok setiap hari. Memainkan instrumen yang kita pelajari secara rutin juga mempunyai keuntungan lain, yaitu kita dapat mengasah kemampuan kita untuk mengontrol serta mengeksplorasi instrumen musik tersebut.
3. Berlatih dalam keadaan relax, hal ini diperlukan agar otak kita dapat bekerja secara maksimal. Jika kita berlatih dalam keadaan tertekan karena dikejar waktu, sedang dalam keadaan marah, ataupun ngantuk, maka kita tidak akan bisa berlatih secara maksimal.
4. Tidak menghafalkan not balok, maksudnya di sini adalah bahwa kita jangan menghafalkan not balok seperti kita belajar sejarah atau pelajaran sekolah. Karena jika itu yang kita lakukan, maka kemungkinan besar kita akan cepat lupa ketika kita tidak pernah membaca not balok lagi. Sebaiknya kita cukup mengetahui lokasi not dalam garis paranada serta tempat kita meminkan nada tersebut dalam instrumen dan berlatih sambil melihat partiturnya, jangan dihafal mati-matian (do letaknya di sini, re letaknya di sana, dst.) Hafal itu pasti akan terjadi ketika kita sudah sering latihan dan sering memainkannya dengan instrumen yang kita tekuni (lihat poin 1 dan 2 :p)
Dari ke empat hal diatas saya akhirnya bisa membaca not balok meskipun kemampuan tersebut harus selalu dan tetap diasah setiap hari mengingat tingkat kesulitan lagu yang akan dimainkan pasti akan semakin tinggi. Dimana saya harus belajar mengenai ketukan serta tempo dan tanda istirahat yang ada dalam sebuah partitur musik sehingga menjadikan permainan menjadi lebih mengalir.
Jadi selamat mencoba mempraktikan 4 hal di atas yah. Dan buat yang punya tips lainnya jangan segan untuk menambahkan, siapa tahu dengan bertambahnya tips diatas, akan semakin membantu teman-teman yang sedang belajar membaca not balok
CARA MEMASANG SENAR DAN STEM
Buat pemula aja... yg sering .nanya bagaimana cara STEM/TUNING biola....
Buat senior/master kalo bisa kasih tambahan masukkan... thanks
..
Buat senior/master kalo bisa kasih tambahan masukkan... thanks
..
SENAR BIOLA
Senar dibuat dari usus domba, direntangkan, dikeringkan, lalu dipelintir. Pada suatu ketika ditemukan bahwa senar usus ini dapat dikembangkan dengan cara dicampuri logam. Hasil yang diperoleh dari proses ini adalah senar yang lebih kuat dan lebih seimbang, dan karena lebih padat dapat disetel dengan tekanan yang lebih besar, menghasilkan volume yang lebih besar pula. Dibanding dengan senar sintetis yang banyak digunakan sekarang, senar usus memiliki bunyi yang lebih hangat, seperti suara nyanyian.
Senar modern menggunakan baja padat, baja untingan, atau berbagai bahan sintetis. Semua senar untingan dan beberapa senar padat dilapisi dengan bermacam-macam logam untuk menyesuaikan massanya, diameternya, dan kadar airnya . Senar tertinggi E biasanya dari baja padat, yang kadang dicampur aluminium untuk mencegah "siulan". Lapisan emas mencegah karat pada senar dan juga mengurangi "siulan". Baja tahan karat menghasilkan suara yang sedikit berbeda. Senar berinti sintetis menggabungkan kualitas yang dihasilkan senar usus dengan ketahan-lamaan dan stabilitas penyetelan. Senar ini lebih sensitif kepada perubahan kelembaban daripada senar usus, dan tidak begitu sensitif terhadap pt
Menyetem Biola
Namanya juga menyetem nada/bunyi, jadi kita harus mengandalkan telinga untuk menyamakan bunyi yang kita dengar.
Jika anda menggunakan keyboard (gambar Penalaan 1), maka nada G (senar G) pada biola bunyinya harus terdengar sama dengan nada G seperti yang ditunjukkan pada contoh keyboard dibawah. Hal ini berlaku untuk ketiga senar lainnya (D, A dan E).
@ Tuning peg di putar (Gambar 1) ke depan : untuk menaikkan nada (mengencangkan senar), ke belakang : untuk menurunkan nada (mengendorkan senar).
@ Kencangkan tuning peg sambil diberi sedikit tekanan (dorongan ke dalam), supaya tidak mudah kendor.
@ Hati-hati saat memutar tuning peg, terlebih untuk biola yang harganya dibawah 1 juta (pengalaman pribadi, seperti biola milik saya sendiri), tuning peg mudah patah, karena kualitas kayu yang digunakan jelek (Gambar 2). Tapi dapat diganti, karena suku cadang ini di jual di toko musik.
Teknik penalaan pada biola berbeda dengan teknik penalaan pada gitar. Gitar menggunakan sistem layaknya baut dan mur, sedangkan biola, tidak.
@ Jadi, pada biola, tuning peg dikencangkan secara perlahan, satu demi satu secara menyeluruh, jangan main tancap gas hanya pada satu senar saja langsung menuju nada yang diinginkan.
Secara menyeluruh maksudnya :
* Saat memutar tuning peg, lakukan pemutaran “sedikit” demi “sedikit” pada semua tuning peg.
* Mulai dari senar G (misalnya) : putar “sedikit”, lalu menyusul (misalnya) senar E juga “sedikit”, dan seterusnya hingga mencapai penalaan yang sesuai.
* Hindari pemutaran/pengencangan tuning peg (penalaan) secara langsung untuk mencapai nada yang tepat untuk satu senar saja, atau . . .
* Hindari mengencangkan satu senar saja (misalnya hanya senar G) hingga mencapai nada sebenarnya (nada G). Hal ini dapat menyebabkan senar biola anda putus, apalagi jika kualitas senarnya boleh dibilang jelek. Bukan berarti senar yang berkualitas dapat diperlakukan semaunya
* Mulai dari senar G (misalnya) : putar “sedikit”, lalu menyusul (misalnya) senar E juga “sedikit”, dan seterusnya hingga mencapai penalaan yang sesuai.
* Hindari pemutaran/pengencangan tuning peg (penalaan) secara langsung untuk mencapai nada yang tepat untuk satu senar saja, atau . . .
* Hindari mengencangkan satu senar saja (misalnya hanya senar G) hingga mencapai nada sebenarnya (nada G). Hal ini dapat menyebabkan senar biola anda putus, apalagi jika kualitas senarnya boleh dibilang jelek. Bukan berarti senar yang berkualitas dapat diperlakukan semaunya
*keterangan “sedikit” demi “sedikit”= jarak putaran diasumsikan antara 1 s/d 5 mm.
@ Terkadang, menyetem dari tuning peg bisa langsung mendapatkan bunyi yang tepat / sesuai, jika belum, maka penalaan dilakukan dengan menggunakan fine tuning (Gambar 3).
@ Fine tuning di putar perlahan ke arah kanan untuk menaikkan nada atau ke kiri untuk menurunkan nada, sehingga dapat menghasilkan penalaan yang sesuai.
_______________________
Catatan :
Setelah biola disetem, atau setelah seteman biola “sudah baik”, tetapi mungkin kita masih merasa nadanya belum benar-benar tepat, ada alat yang bisa kita gunakan untuk meyakinkan apakah telinga kita benar masih berfungsi dengan baik atau belum
Nama alatnya adalah Digital Tuner. Alat ini sangat berguna untuk membantu proses penyeteman menjadi maksimal = memperoleh bunyi

Naah, menyetem dengan mengandalkan telinga kita, kadang bisa mendapatkan bunyi yang tepat, tetapi kadang juga tidak. Bagi orang yang sudah terbiasa mendengar / menyetem, mungkin tidak terlalu mengalami kesulitan. Tetapi ada diantara kita yang karena tidak/belum terbiasa dengan mendengar nada / apa yang disebut menyetem, dia tentu akan merasa khawatir, apakah sudah betul atau belum yah?… hmmm ini wajar, jangan khawatir / takut, karena hanya dengan terus mencoba, maka telinga anda akan terbiasa.....
Langganan:
Komentar (Atom)


































.jpg)