Sabtu, 15 November 2014
Fragmen Seorang Violinist: Quantum Leap
Bambang Irawan
Fragmen Seorang Violinist: Quantum Leap
Kabar gembira untuk para pembelajar biola yang jenuh atau merasa terbebani dengan latihan panjang dan lama untuk bisa menguasai biola. Bahwa latihan yang membebani diri sendiri, penuh tekad dan obsesi (baca kerja keras dan ngoyo) dipercaya justru memperlama proses belajar dan ujung ujungnya malah membuat sesi sesi latihan tidak bisa dinikmati. Yehudi Mehunin dalam bukunya menulis pengalamannya sebagai jenius cilik, masa remajanya yang harus tetap berjuang dan berlatih dan puluhan tahun malang melintang di gedung konser: bahwa berlatih biola tidak bisa dijalankan dengan obsesi cepat bisa. Dalam kisah Zen kita membaca seorang murid pedang bertanya ke gurunya berapa lama bisa menguasai ilmu pedang dan sang guru menjawab paling cepat 40 tahun. Sang murid kembali menawar, tapi guru saya akan meninggalkan keluarga, pekerjaan dan fokus sepenuhnya belajar ilmu pedang dan sang guru menjawab "kalau begitu kamu butuh minim 120 tahun untuk menguasai ilmu pedang".
Studi ilmiah yang mendukung pengalaman Zen dan pengalaman maestro biola ini ada dalam neuroscience. Dua kelompok sukarelawan ditest belajar piano dengan dua cara (yang dijelaskan di fragmen sebelumnya : Mental Practice), hasil pemetaaan motor cortex otak mereka menunjukkan hasil yang menarik. Tes hari Senin (awal minggu setelah beristirahat di akhir pekan) dan tes hasil Jumat (setelah seminggu latihan) menunjukkan perbedaan otak kita dalam bertumbuh kembang. Kedua pola menunjukkan pertumbuhan yang saling bertentangan.
Peta hari Jumat menunjukkan peta motor kortex mereka bertumbuh secara dramatik (menunjukkan perubahan akibat pembelajaran skill baru) terus selama durasi tes . Tapi kembali menciut ke awal lagi pada hari Seninnya. Enam bulan pertama perubahan sangat dramatik tapi selalu kembali ke awal lagi. Enam bulan berikutnya pertumbuhan mulai menurun tidak sedramatik enam bulan pertama.
Peta hari Senin sebaliknya tidak berubah selama enam bulan pertama, baru bertumbuh pelahan setelah bulan ke sepuluh. Para pembelajar musik dan pembelajar huruf braille memperoleh ketrampilan permanen mereka dari perkembangan yang perlahan ini (setelah beristirahat dan pertumbuhannya tidak dipaksakan). Ketrampilan yang diperoleh dengan pertumbuhan cepat cepat pula hilang kembali.
Karena kedua proses terjadi di otak kita, kita sekarang mengerti manfaat berlatih tiap hari tanpa ngoyo dan konsistensi terus berlatih minggu demi minggu untuk skill yang permanen. Dengan ini kita tahu bahwa latihan akan membawa hasil (baik maupun buruk) terlepas dari kita ngoyo atau tidaknya. Dan skill baru membutuhkan latihan dan iterasi, ibarat menekuk kertas membuat pola garisan. Makin banyak di tekuk kertas akan membuat garis tekuk yang makin jelas dan dalam. Begitu pula otak kita dengan ketrampilan baru, makin banyak latihan pola sinaposis neuron kita akan jelas dengan proses tumbuh yang dikutip diatas.
Ini menjawab kenapa kita latihan dengan mengukur tiap hari atau minggu akan membuat stress sendiri. Mengukur diri dengan hitungan bulan baru proporsional. Mereka yang pernah berlatih olah raga khususnya marathon atau olah raga aerobik lainnya akan mengerti hal ini, setelah sekian bulan latihan hanya mampu lari sekian kilo dalam sekian menit, tiba tiba mengalami lompatan kemampuan lari di bulan ke sekian latihan. Ini disebut quantum leap latihan. Dan sayangnya kadang datangnya quantum leap ini mungkin sehari sebelum kita berhenti berlatih karena jenuh atau bosan ! Jadi jangan berhenti berlatih biola, mungkin besok quantum leap anda datang!
Salam ngek ngok!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar